Pendar jingga kali ini
Meniupkan angin hangat
Bertiup sehangat kematian
Menyapaku dan menawarkanku maut
Tapi ku masih ingin hidup seribu tahun lagi
Untuk dia yang kucinta
Sekali lagi aku ingin hidupdemi dia
Yang ku sayang dan yang selalu ku rindu
Maut itu pun berlalu sambil berpaling sejenak pasdaku
Menatapku sebentar dengan kesal
“kau memang telah melampaui batas” ujarnya padaku
Entah tiba-tiba mataku membiru
Menyajikanku rasa sehangat kematian
Dan sedingin cinta
Senjapun berlalu tanpa permisi
Lalu kutatap kabut hitam di atas sana
Dan kubisiknya pelan
“Biarlah aku hidup dalam kesan yang terabaikan
Hidup dalam beban dan derita
Asal di yang kucinta selalu untukku
Menyertaiku yang hidup dalam mati”.
Bantaeng ,09 06 2008
KUMPULAN PUISI
Sabtu, 08 Maret 2014
BENCANA
Mentari senja kini merona di ufuk barat
Menyajikanku pendar jingga untuk pandanganku
Ya….. Tuhan ,Ampuni Aku
Malam kini benar-benar ‘kan menabrakku lagi
Pertanda penghabisanku sebentar lagi kan ku jelang
Esok dan lusa akan berulang
Tapi semoga bencana yang menimpaku saat ini
Tak terulang untuk umatmu yang akan datang
Oh Kehidupan seluruh pendengar
Apakah kau dengar gemah dari lantunan
Bait-bait dukaku ?
Apakah kau dengar tangisan dan rintihanku
Serta keluh kesahku yang pilu menyayat hati ?
Apakah kau dengar ?.
Bantaeng 3 juni 2008
Menyajikanku pendar jingga untuk pandanganku
Ya….. Tuhan ,Ampuni Aku
Malam kini benar-benar ‘kan menabrakku lagi
Pertanda penghabisanku sebentar lagi kan ku jelang
Esok dan lusa akan berulang
Tapi semoga bencana yang menimpaku saat ini
Tak terulang untuk umatmu yang akan datang
Oh Kehidupan seluruh pendengar
Apakah kau dengar gemah dari lantunan
Bait-bait dukaku ?
Apakah kau dengar tangisan dan rintihanku
Serta keluh kesahku yang pilu menyayat hati ?
Apakah kau dengar ?.
Bantaeng 3 juni 2008
BENTENG KEGELAPAN
pagi buta menabrak umat
diantara benteng kegelapan
jiwa-jiwa bangun dengan aroma nafas yang segar
mencari…
mencari jawab atas setumpuk Tanya malam tadi
atau mencari senyum setelah seharian menangis
ataukah mencari doa setelah seharian merintih…
merintih dan mengingat…
mengingat segala nista yang melekat di tubuh
menempel erat di palung jiwa
lalu membisik malam diantara sengatan dingin di pagi dini
“tuhan….aku teringat bunda,teringat ayah,teringat semuanya…
Tuhan…buka mata hatiku,terangi jalanku dengan cahayamu.
tanpa petunjukmu aku akan gelap..
ibu…adakah di kau rindu anakmu yang jauh darimu?
Ayah…adakah ingatanmu tertuju pada anakmu yang kini menangis?”
Restumu akan menerangiku menuju jalan yang terarah.
Makassar,20 february 2011
Pelangi tak berwarna
RAPUH
Sejauh pandang tiada jua waktu
Untukku lepaskan dahaga kerinduan
Jiwa hampa menelusur malam dengan tangis tiada henti
Kerinduan menamparku lagi hingga berulang
Ibu…
Ayah….meski hati rapuh,aku pemujamu di tiap detik waktu
Meski beribu kebohongan dan kekecewaan harus tumpah
Sebagai kado kredo senja dari ananda.
Tapi ananda tiada luput dari tangis kerinduan
Di tiap kali malam dan kesepian menabrakku
Ibu…ayah…meski kasih ananda tiada sempurna
Meski semangat abdi ananda kian surut dan rapuh
Ananda ingin bisik lewat angin malam
“ananda di serang rindu.adakah rasa yang sama menyerangmu nun jauh disana?”
Sembah ampun ananda atas persembahan air mata.
Makazzart,20 february 2011
Pelangi tak berwarna
UNTUK SAHABATKU
Pagi kembali tersenyum manis
Mentari begitu megah
Memberikan kedipan mesra buat pemujanya.
Lalu angin membisikku perlahan tentang seribu Tanya padaku.
Sahabat…
Lama nian dirimu tak Nampak mengunjungiku
Lama nian tak kau tanyakan pelangiku
Sahabat…pelangimu tak lagi berbias warna yang bercahaya
Adakah di kau tahu?
Sahabat…
Pelangi terserang rindu akan jejak canda dan tawa saat bersama
Adakah kalian merasa sama dengan pelangimu?
Adakah kalian mengunjungiku di saat aku butuh lagi?
Ataukah disaat kau harus mengusung keranda jenazahku?
Adakah kalian tiba sebelum itu?
Aku tunggu jawabmu lewat angin saja
Makazzart,20 february 201
Pelangi tak berwarna
UNTUK KEKASIHKU
Senyummu di tiap tatapanmu
Mengalirkan semangat yang baru
Membangunkan jiwaku yang rapuh
Menghapus air mataku yang kian berganti
Kekasihku….malaikat kecilku…
Dengarkan…
Semua berjalan seperti air mata
Hilang dan berganti sesuai kehendaknya
Dengar…dekap hatiku kala ia menangis
Dengar…sayang..
Jangan biarkan luka meneteskan air matamu
Cukuplah denganku bersahabat dengan beribu tetesannya
Air mata tiadalah abadi
Tiada keabadian seperti layaknya nafas
Hilang dan berganti..mari jalani luka dengan senyum
Senyumku untukmu..kekasihku
Abadikan senyuman menuju harapan.
Makasar,20 february 2011
Pelangi tak berwarna
Langganan:
Postingan (Atom)